Bunga, Sastra, Ritual Jawa
![]() |
| sumber gambar: dewisundari.com |
Sebagai orang Yunani menghias kepala
dengan karangan bunga dalam kemenangan, seperti orang Hindu berkalungkan
rangkaian bunga waktu perayaan, demikian pula kulihat diriku mengubah kalung
melati untukmu, putih bersih, dan suci sebagai jiwamu (Arti Purbani, 1995:103).
Bunga
hidup di sekitar kita dengan menguarkan segala pesona dan keindahan. Tanpa bunga,
hidup terasa ganjil. Tak bisa memandang indah. Tak bisa berpeka rasa. Bunga
umumnya hadir dalam percintaan sepasang kekasih sebagai kado kepada pasangannya
untuk bukti kasih sayang. Biasanya pemberi dan penerima itu remaja yang masih
hangat-hangatnya memulai percintaan. Ada juga segelintir orang tua, tapi hal
itu jarang terjadi.
Tak
ada yang tak kenal dengan bunga, tapi celakalah mereka yang tak pernah
menemukannya. Alangkah sialnya jika hanya bertemu atau dihadiahkan seseorang
dengan bunga-bunga yang tercipta dari bahan kain, apalagi plastik. Barangkali,
beberapa tahun dekat atau panjang ini kita akan kesulitan mencari bunga yang
benar-benar hidup. Kukira bunga-bunga tiruan itu tengah mulai menggantikan
peran bunga yang punya nyawa, khususnya di perkotaan. Biasanya bunga tiruan itu
akan kita dapatkan di acara wisuda, karangan bunga berisi ucapan selamat pada
perayaan-perayaan, atau yang terjual di mal-mal dan toko souvenir. Bahkan, bunga tiruan di beberapa resepsi pernikahan mulai
menggantikan bunga-bunga hidup dan segar sebagai dekorasi. Perhatian kepada
bunga sekadar kulitnya saja. Sepertinya bunga kehilangan kesakralannya.
Dalam
masyarakat Jawa,berbagai ritual yang mereka lakukan tak pernah absen dari
bunga-bunga. Mereka mempunyai perhatian khusus terhadap bunga dan percaya
bunga-bunga itu mempunyai peran penting di kehidupan, sehingga mereka menaruh
kehati-hatian dalam menyikapinya. Bagi mereka, bunga mempunyai
tafsiran-tafsiran makna dalam yang barangkali tak kita duga.
Selain
kegunaannya untuk menghiasi halaman rumah dan pelengkap busana, bunga memiliki
peran penting. Seperti yang ada pada kutipan novel Widyawati (1995) karya Arti Purbani di awal tulisan ini, tiba-tiba
aku teringat bunga-bunga yang tertemui setiap menghadiri undangan-undangan acara.
Acara-acara yang beraroma kesakralan seperti slametan khitanan, pernikahan, dan tahlilan. Bunga-bunga yang dapat
kita temukan di setiap sudut ruang, atas meja dan dekorasi pada panggung. Pun
tak lupa penghias rambut Tuan rumah dan keluarga tak luput dihinggapi bunga.
Bunga-bunga beraneka macam bentuk, warna, dan aroma. Bunga kerap dihadirkan di
sela-sela perayaan. Tanpa bunga, ritual itu seperti tak sah jika dilaksanakan.
Setiap pertumbuhan manusia,
khususnya dalam ritual Jawa, bermacam-macam ritual dilakukan berdasarkan umur
paling belia hingga pada nafas terakhirnya. Sebagai contoh, setelah adanya
kelahiran si anak, kita tahu Tedak Siten
terkait anak yang berumur tujuh lapan
yaitu 7x35 hari diadakan ritual mengenalkan si anak untuk yang pertama kalinya
pada tanah/bumi. Di sana kita akan menemukan bunga yang tercampur dengan air
atau biasa disebut air kembang setaman
yang digunakan untuk memandikan si anak. Air yang bisa kita tafsirkan sebagai
media untuk meluruhkan segala hal negatif di sekitar kehidupan. Pun kehadiran
bunga di kembang setaman tersebut
mempunyai fungsi memberikan keharuman nama diri dan keluarga. Sehingga
orang-orang Jawa memunculkan peristiwa memandikan si anak dengan kembang setaman agar terhindar dari
penyakit dan membawa nama harum bagi keluarga kemudian hari.
Beberapa tahun kemudian si anak akan
segera dikhitan, lalu biasanya dilanjutkan dengan slametan. Di slametan
khitanan pula, bunga hadir dalam bentuk seuntai bunga melati yang dikalungkan atau pada mahkota si anak dan
kadang kemudian diselingi dengan arak-arakan
atau keliling kampung dengan mengiringi si anak yang menaiki kuda. Anak lelaki
yang dipotong kulit pucuk kelaminnya itu dalam kebiasaan Jawa tak juga lepas
dari bunga-bunga sebagai penghias pelengkap dandanan. Hal itu bisa kita temukan
dalam novel Widyawarti karya Arti
Purbani, bahwa di sana ada Ibu Sudiro dikisahkan tengah merangkai-rangkaikan
bunga-bebungaan yang dijadikan kalung bagus dan panjang untuk penghias rambut
Sudiro waktu slametan khitanannya.
Selanjutnya
menginjak dewasa kita akan dituntut untuk segera menikah—membentuk keluarga
baru—entah itu karena keputusan pribadi atau mungkin faktor sosial. Di ritual
pernikahan atau resepsi pernikahan, khususnya dalam tradisi Jawa kita akan
berjumpa lagi berlimpah-ruah bunga-bunga. Baik itu dijadikan hiasan dekorasi
panggung dan ruang maupun busana pada pengantin, pager ayu, lalu pengapit pasangan
pengantin. Bunga-bunga digunakan untuk mengindahkan dekorasi agar sedap
dipandang dan memberi aroma harum di udara sekitar. Bunga-bunga itu dihadirkan
sebagai doa agar sepasang pengantin akan selalu menjalani kehidupan bersama
yang indah dan membawa keharuman dimanapun mereka berada.
Harum,
adalah aroma yang melesapkan segala gelisah dan beban. Setiap wewangian yang
kita hirup mempunyai kecanggihan menentramkan hati atau pikiran-pikiran kita
yang kadung semrawut. Wewangian itu
bisa muncul pada bunga-bunga. Bukan bunga tiruan yang disemprotkan dengan
parfum yang dijual di toko-toko, melainkan bunga yang nyata hidup. Banrangkali,
itulah yang membuat masyarakat percaya bahwa bunga mampu menaruh ketentraman
pada orang yang meninggal.
Pada peristiwa kematian, kita akan
melihat orang-orang berdatangan membawa bunga—biasanya bunga tujuh rupa dan
bunga melati—yang kemudian ditaburkan ke atas gundukan makam orang yang
meninggal. Penaburan bunga-bunga tersebut atau menyiram air bunga di makam
mempunyai tujuan tertentu. Aroma bunga-bunga itu diharapkan agar sampai tercium
oleh arwah yang ada dalam makam. Upaya itu agar arwah orang yang sudah
meninggal itu tidak merasa kesepian, bahwa kehidupan di atas tanah masih ada
orang-orang yang merinduinya.
Adapun
dalam kebiasaan masyarakat Jawa, kita tahu ada beberapa yang masih percaya, meyakini
dan melakukan perhatian lebih kepada arwah orang yang baru meninggal. Mereka
masih percaya bahwa setiap kamar orang yang baru meninggal tak satupun
diperbolehkan menghuni di dalamnya. Hal itu dipercaya bahwa arwah yang baru
meninggal itu masih bersinggah di kamarnya dulu. Sehingga mereka menaruh
seuntai melati di ranjang untuk si arwah sebagai sesembahan atau bisa jadi untuk memberitahukan kepadanya bahwa
keluarga masih peduli meski sudah berbeda alam. Tujuan itu agar si arwah
menjadi lebih tenang ketika meninggalkan orang-orang yang masih hidup, terutama
keluarganya. Peristiwa tersebut diangkat oleh Sapardi Djoko Damono dalam
puisinya yang berjudul Bunga, 3, “seuntai kuntum melati yang di ranjang itu
sudah berwarna coklat/ ketika tercium udara subuh dan terdengar ketukan di
pintu tak ada sahutan/ seuntai kuntum itu sudah kering; wanginya mengeras di/
empat penjuru dan menjelma kristal-kristal di udara ketika/ terdengar ada yang
memaksa membuka pintu/ lalu terdengar seperti gema “hai siapa gerangan yang
membawa pergi jasadku?”
Adapula
peristiwa bunga-bunga yang diarungkan ke sungai. Di beberapa wilayah, ritual
itu masih dilakukan untuk persembahan kepada orang yang meninggal. Mengarungkan
bunga ke sungai digunakan sebagai perantara mengantarkan arwah menuju kepada
Sang Pencipta. Sapardi Djoko Damono menampakkan peristiwa tersebut dalam
puisinya Kepada I Gusti Ngurah Bagus:
Perempuan tua, tumpuklah padimu di lumbung
dan/ hanyutkan bunga itu di sungai; biar kuperintahkan orang-/ orang itu
membuat api di tanah lapang agar terbakar sempurna jasadmu mengabu//.
Bunga
juga tak lepas dari ritual keagamaan khususnya dalam Islam Jawa. Setiap tanggal
1 Suro atau tanggal 1 bulan Muharram mereka bermujahadah sebagai tolak bala.
Biasanya dilakukan pada malam hari setelah salat Isya. Air minum yang tercampur
dengan bunga—biasanya salah satunya bunga mawar—di letakkan di tengah ritual kemudian
memanjatkan mereka berdoa bersama. Usai ritual, mereka akan membawa pulang air
bunga tersebut untuk diminum. Mereka meyakini bahwa air bunga yang telah
didoakan mampu menyimpan doa-doa yang selama itu mereka panjatkan. Air bunga
itu diminum hingga merasuk dalam ruh dan jasmani mereka. Sehingga musibah,
penyakit dan segala apapun yang tidak menyenangkan menghindar dari kehidupan
sekitar.
Dalam
ritual apapun tak jarang kita menemukan bermacam bunga yang selalu hadir di
dalamnya. Baik itu sebagai alat atau media untuk cara pelaksanaan ritual atau sekadar
aksesoris pada dekorasi dan busana. Namun, tersebab bunga mempunyai peran
penting dalam masyarakat perlulah kita menggali lebih dalam atau memberi
perhatian terhadap bunga-bunga. Barangkali dalam hal ini, yakni ritual, kita perlu
“membaca” lebih dalam alasan dibalik penghadiran bunga. Seperti yang
disampaikan sebelumnya, yaitu penghadiran bunga dalam ritual kematian bahwa
bunga adalah perantara doa dan arwah untuk mencapai persinggahan Sang Pencipta.
Kita tak seharusnya memunggui sebuah bunga. Di luar ritual, tentunya yang masih
ada di sekitar kita, bahkan dalam lirik musik pun seringkali mengangkat
tema-tema bunga, contohnya bunga melati diberi pemaknaan sebagai simbol
keindahan, cinta dan kesucian. Seperti pada lirik lagu Melati Putih karya Bimbo: Kau
lambang kesucian/ Cinta yang abadi/ yang selalu dirindukan//. Pun pada
lirik lagu-lirik lagu lain kita kerap mendapati tema-tema bunga pula.
Bunga
menjadi satu hal penting dalam segala ritual atau peristiwa yang terjadi
khususnya dalam masyarakat Jawa. Kukira kita perlu memberi perhatian kembali
sebelum bunga-bunga tiruan menyingkirkan, atau bahkan memusnahkan peran
bunga-bunga yang nyata. Meski kita hidup di perkotaan, tak etis jika kita mengabaikan
kesakralannya. Bunga mempunyai ruh yang mampu memberikan pesona dan
kebersahajaan. Sebelum itu, kita telah mempelajari ketabahan bunga dalam
usahanya untuk merekah agar dipandang, dicium dan dipuja-puja segala makhluk
hidup. Kita lihat dan dengar bunga-bunga yang ada di halaman, taman, vas bunga
atau di manapun seperti rekah yang tanpa kata-kata. Tanpa kegaduhan.[]
Rujukan:
Purbani, Arti.
1995. Widyawati. Jakarta: Balai
Pustaka.
Djoko Damono,
Sapardi. 2015. Hujan Bulan Juni.
Jakarta: Gramedia.

Komentar
Posting Komentar