Beberapa Pecahan Itu
Pecahan I
Secangkir vietnam drip kini hambarAirnya berlebih atau biji hitam terlampau
irit seperti kegagalan satu perbincangan
menemu takar yang tepat.
Aku pernah bercerita kepadamu
Riwayat lidahku kadang gemar
menyesap kopi yang kelewat manis susu
Sebelum menjelma pahit
cuma kerut kata-kataku, sekadar maaf
atau ucap terima kasih atau memintamu
kembali.
Sekali lagi lidahku beku dan jemari
Gemetar mengangkat cangkir sendiri
Usai kamu memutuskan berhenti
Sebelum habiskan sisa dingin kopi
kemudian beranjak dari meja kita,
menyisakan punggungmu
mengabur dan pelan-pelan hilang
di tengah Oktober yang tiba-tiba hujan
begitu deras.
Kehilangan--trauma masa lalu yang kini menjenguk kembali--meski telah dipersiapkan matang-matang
Tapi kesakitan mengoyak tak peduli.
Pecahan II
I
Kukira makanan apapun terasa sedap
Jika disajikan dengan bumbu yang tepat
Atau diolah oleh koki yang mahir menggunakan pisau dan spatula.
Kau tahu aku begitu mengagumi mi ayam
Sedang kita selalu berdebat
mana yang lebih memuaskan: mi ayam
atau bakso urat.
Mungkin itu anggapan keliru, sungguh keliru
Barangkali yang menjadikan nikmat
Justru bukan makanan itu sendiri
Tapi dengan siapa kita berhadapan
Di meja makan.
Kenikmatanku bersantap hanya saat
Hanya ada kau di depanku:
memandangi bibirmu lirih berdoa
sebelum makan, kucur keringatmu di dahi,
dan memerah pipimu itu.
II
Namun kini nikmat telah berjarak
dari semangkuk mi ayam
bahwa kursi depan hanya ada angin.
Panjang mi begitu mudah putus
Manisnya kuah melemahkan tubuhku
Juga hilang hasrat pada suwiran ayam
yang justru dianggap kucing-kucing liar
Sebagai hidangan surga.
I
Kukira makanan apapun terasa sedap
Jika disajikan dengan bumbu yang tepat
Atau diolah oleh koki yang mahir menggunakan pisau dan spatula.
Kau tahu aku begitu mengagumi mi ayam
Sedang kita selalu berdebat
mana yang lebih memuaskan: mi ayam
atau bakso urat.
Mungkin itu anggapan keliru, sungguh keliru
Barangkali yang menjadikan nikmat
Justru bukan makanan itu sendiri
Tapi dengan siapa kita berhadapan
Di meja makan.
Kenikmatanku bersantap hanya saat
Hanya ada kau di depanku:
memandangi bibirmu lirih berdoa
sebelum makan, kucur keringatmu di dahi,
dan memerah pipimu itu.
II
Namun kini nikmat telah berjarak
dari semangkuk mi ayam
bahwa kursi depan hanya ada angin.
Panjang mi begitu mudah putus
Manisnya kuah melemahkan tubuhku
Juga hilang hasrat pada suwiran ayam
yang justru dianggap kucing-kucing liar
Sebagai hidangan surga.
Pecahan III
Pernah satu malam di ujung menara
Memandangi kota sehabis hujan
Aku pernah tiba-tiba berkata padamu,
"telah aku temukan bintang-bintang
di bening matamu"
Meski yang kudapati ada kesedihan
tersembunyi di sana, barangkali
pecahan-pecahan masa lalu masih
berserak di tubuhmu.
Sedang waktu itu aku begitu yakin
Bakal mampu menahan luka
tergores setiap langkah di kediamanmu.
Dan aku memang kesakitan
Menjadi koreng dan tergores kembali
Sebab kegagalanku bertahan di antara itu
Begitu sampai ujung kelelahanku.
Atau barangkali kini telah datang seseorang punya masa depan di telapak tangannya
membawakan bintang baru
berhasil menyingkirkan pecahan-pecahan
itu, dan menuntaskan kesepianmu.
Aku cepat-cepat membuka pintu
dan keluar agak berlari
Tentunya berharap seseorang mengejarku
Tapi yang aku dapatkan tak ada sekalipun
yang memanggil namaku.
Pernah satu malam di ujung menara
Memandangi kota sehabis hujan
Aku pernah tiba-tiba berkata padamu,
"telah aku temukan bintang-bintang
di bening matamu"
Meski yang kudapati ada kesedihan
tersembunyi di sana, barangkali
pecahan-pecahan masa lalu masih
berserak di tubuhmu.
Sedang waktu itu aku begitu yakin
Bakal mampu menahan luka
tergores setiap langkah di kediamanmu.
Dan aku memang kesakitan
Menjadi koreng dan tergores kembali
Sebab kegagalanku bertahan di antara itu
Begitu sampai ujung kelelahanku.
Atau barangkali kini telah datang seseorang punya masa depan di telapak tangannya
membawakan bintang baru
berhasil menyingkirkan pecahan-pecahan
itu, dan menuntaskan kesepianmu.
Aku cepat-cepat membuka pintu
dan keluar agak berlari
Tentunya berharap seseorang mengejarku
Tapi yang aku dapatkan tak ada sekalipun
yang memanggil namaku.

Komentar
Posting Komentar