Lubang Mata Subagio
![]() |
| Puisi tayang di Mata Puisi Edisi Subagio Sastrowardojo |
Malam ini kami dengar suatu kabar
Dari kaum penghuni rawa-rawa
Matamu pecah di mulut kemarau mereka
Hanyalah hujan menyembur asin
Sepah kecewa tersisa di lidah kelojotan.
Menjelmakah mereka jadi pemburu
Menyusuri rawa tempat rahasia para dewa
Yang kau tanam dulu
Saat lumpur membaluri sekujur tubuhmu?
Kini mereka menunjukkanmu lambung
Di mana bahkan angin tak sudi singgah
Usai penglihatanmu tenggelam di sana
Mereka mengasingkan gua lubang hitam
Bekas matamu merekam dan berkaca:
Setiap memancar sajak-sajak sedih
Yang menawarkan pil pengantar tidur
Agar menelungkupkan sepasang kelopak
Matamu yang gagal menolak cinta.
Di gua masih ada sisa darah menetes
Sulur koyak dinding daging menjuntai
Jadi persembunyian bagi kami penyair
Semedi seperti seorang utusan bermalam
Hingga menerima turunnya wahyu pertama
Untuk diwasiatkan sebagai mata angin.
Tapi matamu hanya lubang di tengah mimpi
Anak yatim kepada seorang perempuan
Yang merebus batu di dapur jarang tercium
Aroma rempah-rempah.
Dan sabdamu tentang indah kota usai buta
Makin tampak terang serupa surga
Hanya kebohongan yang kau sembunyikan
Di balik dinding bekas matamu tersimpan.
Semarang, 14 Juni 2020

Komentar
Posting Komentar