Buku Pesantren dan Pesantren Buku

Tayang di Solopos pada 27 Oktober 2019

Judul Buku      : Dari Bilik Pesantren
Pengarang       : Ahmad Khadafi
Penerbit           : EA Books
Tahun Terbit    : 2018
Tebal Buku      : XXVIII + 254 hlm

Pesantren hadir di masyarakat agar mengenal agama sekaligus menumbuhkan kemanusiaan yang tinggi. Perlu diluruskan anggapan sebagian masyarakat yang ketakutan dan merasa terancam tentang pesantren yang melahirkan orang-orang radikal dalam beragama. Itu sungguh keliru, sebab di pesantren juga diajarkan sikap toleransi dan melahirkan orang-orang yang bisa mengikuti zaman.
Seperti halnya buku. Di sini buku menjadi pesantren sebagai tujuan sekaligus tempat singgah bagi kaum penimba ilmu yang mengharap berkah serta keselamatan dunia dan akhirat. Berjejer-jejer makna yang bisa dijumput di dalamnya. Buku (atau pesantren) kerap menghadirkan semacam  keterkejutan bersuasana khas berupa wawasan baru, humor yang menggelitik, bahkan satir yang memukul telak kepala kita yang begitu bebal. Hal itu yang digarap oleh Ahmad Khadafi dengan karangan buku kumpulan esai tentang santri, kiai, dan pesantren “Dari Bilik Pesantren”.
Ahmad Kadafi yang bernama asli Syafawi Ahmad Qadzafi ini menganggap pesantren adalah rumah kedua. Bahkan bisa jadi rumah pertama mengingat ia sekeluarga selalu berpindah-pindah tempat. Pesantren menjadi tempat ia merasa pulang. Tempat ia merasa kembali. Maka ia bernostalgia tentang pengalaman-pengalaman masa kecil ketika di pesantren berlanjut menuliskannya dan berakhir menjadi buku. Baginya—yang mengaku di pesantren ia pertama kali bisa menulis—meski tidak banyak ilmu agama yang didapat, tetapi  ia mendapat banyak sekali pengalaman berharga dan malah menjadi sumber penghidupannya sebagai seorang ayah muda.
Esai bergaya cerita ini bermula dari sandal. Sandal, yang dikalangan pesantren menjadi sasaran ghasab. Meski termasuk pencurian, ghasab itu telah dianggap lumrah bagi seluruh penghuni. Namun bukan berarti ghasab menjadi laku yang dibenarkan. Apalagi jika pencurian itu (dalam hal ini sandal) menjadi masif tentu akan mengganggu kenyamanan. Ada cerita unik di Situbondo. Di sini sandal menjadi sebab para preman ikut shalat jum’atan. Diawali kegelisahan Kiai As’ad Syamsul Arifin yang usai shalat jumatan sandal-sandal jamaah selalu hilang. Karena itu Kiai meminta dedengkot preman kampung menjaga sandal-sandal itu ketika jamaah sedang shalat. Dedengkot preman itu menyanggupi permintaan Kiai yang disegani di kampung. Singkat cerita, karena gelisah dan merasa hina karena harus menjaga sandal orang-orang bukannya sandal ia yang dijaga maka ia memutuskan untuk ikut shalat jumatan dan memerintahkan salah satu anak buah menggantikannya. Seperti yang dirasakan dedengkot preman, anak buah itu akhirnya ikut shalat dan menyuruh preman yang lain menggantikannya, begitu seterusnya hingga hampir seluruh preman di kampung jadi ikut shalat jumatan.
Selain sandal, ada juga kisah-kisah yang tak kalah menarik di dalam buku ini. Berkisah tentang peristiwa-peristiwa yang kerap terjadi di kalangan pesantren. Dari kisah metode kiai dalam mendidik, kelucuan-kelucuan tingkah santri, perpeloncoan, karomah kiai, nasib santri yang menjadi kiai, hingga solusi permasalahan yang kerap terjadi di masyarakat pesantren.
Maka di pesantren jauh dengan yang bernama radikal, apalagi teroris. Di sini hanya menyimpan peristiwa-peristiwa menyenangkan. Pengajaran agama dan ilmu kehidupan yang dibalut guyonan khas ala-ala para kiai dan santri. Mengambil pesan Nabi yang dikutip Ahmad Khadafi dalam buku ini, “Permudahlah dan jangan mempersulit, kabarkanlah kegembiraan dan jangan memberitakan ancaman, bersepahamlah dan jangan berselisih” (hlm. 186). Maka si penulis ini mengangkat pesantren untuk menjadi kabar baik bagi masyarakat pembaca.[]

Komentar

Postingan Populer