Tuhan Hakim yang Maha Mulia
“Benar
Tuhan Yang Maha Mulia, ada alasan aku membunuhnya.”
Aku
berada sedang dalam persidangan itu dan benar keadaan ini telah membuat isi benakku
berputar-putar. Bagaimana mungkin, sebenda mati sepertiku bisa dihidupkan dalam
situasi peradilan ini, dan dalam posisi menjadi terdakwa pula. Aku merasa
bingung dengan otakku, mana yang lebih dahulu harus aku pikirkan. Penghidupan atas
diriku ataukah persidangan tentang kematian yang menimpa lelaki itu?
“Setidaknya
ia dimasukkan ke neraka Yang Mulia.” Kata Iblis penuntut.
“Saya
kira mohon pertimbangkan terlebih dahulu. Ia membunuh sebab alasan yang bisa
dibenarkan.” Kata Malaikat pembela.
Di
ruang yang serba putih. Tuhan berperan sebagai hakim, sedangkan para malaikat, iblis,
jin, setan, dan manusia-manusia terpilih menjadi pembela, penuntut, jaksa, saksi,
dan sebagian hanya menjadi penonton sebagai pelengkap. Aku menjadi seorang–atau
sebenda bodoh terdakwa di sana. Keheranan dengan keadaan yang menurutku tak
masuk akal.
Beberapa bulan sebelumnya aku berada
dibumi, tepatnya di sebuah kota. Aku hanya benda yang tak bisa bergerak dan
hanya berdiam saja di perempatan jalan raya. Lurus berdiri tegak, tertancap
kakiku di sudut trotoar. Terbenam dan tubuhku kaku di sana selamanya. Di
sekitarku ramai arus pengendara dan orang-orang yang berlalu lalang. Aku disana
bertugas memberi kode-kode kepada mereka dengan warna-warna yang aku nyalakan
bergantian. Namaku lampu lalu lintas, tapi orang-orang memanggilku lampu merah.
Mereka tahu hijau sebagai penunjuk
segera jalan. Kuning untuk berhati-hati dan merah adalah berhenti. Ya, tapi
manusia memang menyebalkan. Mereka kerap melanggar setiap kode-kode yang aku
sampaikan. Bagaimanapun, begitulah mereka, berlagak keren dengan berani melanggar
setiap aturan. Peraturan dibuat untuk
dilanggar. Celetuk seorang pengendara muda kepada pemboncengnya beberapa
silam. Aku tambah sebal, hingga sekarang masih terbayang-bayang, cengirnya itu yang tak enak dipandang,
yang kadang-kadang meneror hari-hariku yang bahagia.
Tetapi
aku tetap berusaha sabar. Dari orang-orang yang berlalu lalang aku mendengar kalau
orang yang sabar disayang Tuhan. Dan aku mengamininya, dan semoga dengan doaku
itu, Dia (Tuhan Yang Baik Hati) melihat tingkah lakuku yang sangat berbaik hati
dan kemudian mendengarku, dan menjawab doa-doaku yang tak muluk-muluk.
Aku suka berdoa kepadaNya, agar aku
menjadi sebenda yang selalu tabah setiap kali ada orang-orang yang suka merusak
tubuhku yang semula bersih dan sedap dipandang. Mereka merasa tak berdosa sering
menempel poster-poster desain tak indah dan tak berwarna sembarang menawarkan
atau menginformasikan apa pun. Tapi yang paling menjengkelkan kalau poster itu
isinya berbau seksual misal poster iklan penambah kejantanan. Dih, aku selalu kesal
dengan itu. Serasa menjadi benda yang ternoda dan terhina.
“Mas, itu ada iklan penambah
kejantanan, catet nomornya!” kata perempuan muda.
“Gak ah ....” kata lelakinya.
“Catet!” Perempuan itu meninggikan
suaranya.
Aku sungguh prihatin dengan lelaki
itu. Meski aku tak berkelamin, baik yang laki-laki atau perempuan tapi aku tahu
perasaan harga dirinya sebagai lelaki diinjak-injak oleh kaum hawa itu teramat pedih.
Maka aku tidak suka poster itu ditempelkan ditubuhku. Tahulah, poster itu sering
menimbulkan pertengkaran sepasang kekasih yang baru menikah. Yah, tapi
terkadang geli juga saat seorang kakek meminta cucunya yang masih kecil mencatat
nomor yang tercantum disana.
Malam hari saat jalanan lengang dan
sepi. Aku menjadi saksi dunia malam di tengah perkotaan. Malam-malam yang penuh
dengan kehidupan yang keras, kejam dan penuh kenikmatan yang sesat. Aku selalu
melihat pembalap liar, pemabuk, pelacur, banci, dan perampok yang berkeliaran
di sana. Kejahatan yang paling tidak kusuka adalah mereka yang tiba-tiba serupa
anjing dan mengencingi kakiku. Dan kejahatan-kejahatan lain sering aku lihat di
dekatku.
Malam
lalu seorang pengendara yang sedang menatap lampu merah, orang yang
diboncengnya mengeluarkan pisau dari dalam tas, lalu menggorok leher pengendara
hingga memuncratkan warna merah, dan menggelepar di jalanan aspal. Pembunuh itu
membawa barang-barang yang dibunuhnya beserta kendaraannya dibawa lari secepat
mungkin. Esok pagi ramai orang-orang berkerumun dan beberapa polisi disana
tengah menyelidiki mayat yang terlanjur kering darahnya. Disini pekerjaan
orang-orang terlalu lambat. Pikirku.
Lusanya muncul berita di koran, yang
tak sengaja aku lihat ketika ada seorang bocah penjual koran berdiri disampingku
membacanya–atau sekadar melihat gambarnya. Berita besar di koran itu berjudul
“Rombongan Pembegal Merajai Jalanan Kota Malam.” Bergambar foto pembunuhan kemarin.
Aku heran dengan sok tahunya pembuat berita itu. Ia mengada-ada dan
melebih-lebihkan. Aku ingin sekali mengabarkan kejadian sebenarnya, tapi tak
bisa. Oh iya, tapi tubuhku terpampang disana. Aku bahagia. Dengan begitu,
semoga dengan pencitraanku itu aku menjadi terkenal seperti dewan-dewan
pemerintahan itu.
Aku sering menemui mereka yang kerap
menafsirkan sesuatu dengan menduga-duga dan ngawur. Sekitar menginjak bulan
akhir tahun kemarin, pada jumat di siang yang terik aku melihat orang –orang
berdemo melintas didepanku. Mereka berseragam serba putih. Salah satu truk melintas
terpasang spanduk disampingnya tertulis dengan warna merah menyala “Yang Kafir Masuk
Neraka!”
Sungguh kepalaku pusing melihat
tulisan itu. Sebagai sebenda yang meyakini Tuhan, aku tahu Dialah yang berhak memutuskan
siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka. Bukan manusia, apalagi
saya. Lah itu, mereka bisanya menyamakan dirinya dengan Tuhan. Tentu tidak
terima aku. Dan kepalaku tambah pusing bahwa yang dimaksudkan kafir oleh mereka
adalah orang-orang yang tak seagama dengan mereka, menurut kitab-kitab, katanya.
Ah, pendapat ngawur darimana itu? kurang ajar benar mereka.
Selalu saja semakin heran dengan
tingkah manusia yang kerap berulah yang kadang tampak lucu tapi kadang membuat
sedih dan geram. Aku malas melihat pengendara-pengendara yang tak sabar
menunggu di belakang zebra cross.
Seolah-olah adalah pembalap dadakan yang bersiap-siap memulai start perlombaan, dan memenangkan juara
di garis finish untuk mendapatkan
piala dunia. Semula keadaannya tenang, lalu aku nyalakan lampu hijau, seketika
berisik tak karuan. Klakson-klakson melengking bersahutan di sepanjang jalan. Memedihkan
telinga meski di tengah zebra cross seorang
nenek terhenti, sebab tiba-tiba ia lupa darimana mulai menyeberang. Tapi mereka
tak peduli!
Malam itu saat aku menyalakan lampu
merah, aku tampakkan lampu kuning dahulu sebagai aba-aba. Tapi dari sepanjang
pandanganku aku melihat seorang pengendara mengebut melewatiku sebelum lampu
kuning berganti. Namun terlambat, aku sudah merah. Tapi ia tetap melajukan
motornya dan hampir sampai perempatan, dan berada dari seberang sisi lain dekat
denganku, aku terperanjat melihat pengendara lain tengah melajukan motornya
menyeberang. Takdir telah digariskan dan tanpa diduga mereka pun bertabrakan. Pengendara
terpental jatuh lalu berguling-guling ke aspal dan satunya terlempar menghantam
tubuhku hingga tubuhku bengkong dan retak. Dan mereka pun bersimpah darah. Motor
mereka hancur terpecah belah. Orang–orang sekitar berkerumun. Ada yang membantu
mereka. Ada yang menonton. Ada yang tiba-tiba menjadi pencuri atau pencopet dadakan. Dan tak
jauh beberapa meter dariku, seorang lelaki teriak kepada seorang temannya yang
menonton di dekat si korban.
“Kas,
berapa nomor platnya?” Kata seorang lelaki didekatku.
Temannya berlari kembali ke tempat
lelaki itu. “O 3470 YP,” katanya lirih.
“Bismillah, semoga dengan pasang
nomor itu keluar nantinya.” Kata lelaki itu.
“Amin,” jawab temannya sekenanya.
Mereka pun tertawa terkikih–kikih.
Aku mendengar mereka dan mengerti
maksud isi dari percakapannya. Mereka bermain-main dengan kematian orang lain.
Aku benar-benar geram dan marah ketika itu. Lalu sengaja aku mematahkan
tubuhku, dan menjatuhkan kepalaku ke kepala salah seorang itu. kepalanya dan
kepalaku hancur. Kami sama-sama mati saat itu juga.
Dan sampai pada tempat ini, di
sebuah ruang yang serba putih aku disidang atas kasus pembunuhan yang sengaja kulakukan.
Perdebatan-perdebatan yang tak lekas berujung membuat keriuhan di sini. Mereka
saling mempertahankan dan menguatkan pendapatnya masing-masing. Dan kemudian
Tuhan mengetuk palunya barkali-kali. Lekas semua diam.
“Dengarkan
baik-baik wahai hamba-hambaku yang Aku cintai, sudah Aku putuskan. Bahwasanya
ia, terdakwa itu, akan dijatuhi hukuman....” []
Semarang,
12 Juli 2017

josssss, mantab
BalasHapusMatur suwun....
Hapus