Lima Kisah Tentang Kau
/1/ Lelaki dari Masa Silam
“Perjumpaan kita
teramat membosankan bukan?” kau bertanya pada dirimu sendiri. Sedang ia masih
saja bernafsu bercerita tentang dirinya. Keberuntungan karirnya, kekasihnya dan
tentang anak-anaknya yang masih lucu-lucu. Kau mencoba bercerita tentang
masa-masa kalian saat masih duduk di bangku sekolah dasar, tetapi ia memasang
muka bosan, dan merespon dengan sekadarnya, dan memotong omonganmu sekali lagi.
Bercerita tentang dirinya. Keberuntungan karirnya, kekasihnya dan tentang anak-anaknya
yang masih lucu-lucu. Apakah ini yang namanya percakapan? Apakah ini yang
namanya kerinduan?
Beberapa
hari lalu kau tak sengaja bertemu dengannya saat mengunjungi pameran lukisan di
kawasan kota lama. Mula-mula kau ragu, namun kau memberanikan diri menemuinya
dan menyapa. Dan benar, ia adalah kawanmu dari masa silam.
Minggu
depan kau mengajak pertemuan dengannya di sebuah kafe sekadar menumpahkan rindu.
Biarlah ia yang mendominasi percakapan kalian, tapi kau sudah cukup senang dan
sedikit menuntaskan rindu sekadar melihatnya sehat dan bahagia.
“Eh,
aku pergi dulu ya. Aku sudah ditunggu kawanku yang lain. Maaf, aku sudah janji
soalnya”
Kau
mengangguk saja, menyilakan ia pergi. Sembari langkahnya yang menjauh kembali ingatan
tentang kalian semasa di sekolah dasar itu muncul dalam benakmu. Kau masih
ingat saat kalian sama-sama melarikan diri setelah iseng membuka rok
perempuan-perempuan cantik yang ada di sekolah kalian. Kau masih ingat saat kalian
sama-sama bolos kelas dan memilih menonton teletubies
di rumah warga di dekat sekolah. Pun kau masih ingat saat kau memutuskan pindah
sekolah waktu kelas tiga tentang kawanmu yang pertama kali menumpahkan air mata
untukmu—dan waktu itu kau percaya bahwa ia adalah kawan baikmu selamanya.
Setelah
perjumpaan kalian di kafe itu, kau mencoba memaksa dirimu bahwa kau masih bisa percaya
padanya dan kau berdoa ia adalah kawan baikmu selamanya—Semoga.
/2/
Perempuan Pohon
Kau kangen memandang
perempuan-perempuan yang suka memanjat pohon, yang kemudian berebut buahnya
(padahal belum masak), lalu berteriak-teriak histeris kemudian saling jambak-jambakan, seterusnya dan seterusnya. Sungguh hal itu
yang dulu membuatmu diam sejenak, terpukau memandang betapa ia (salah satu dari
perempuan-perempuan itu) menjadi sangat memesona dan tampak begitu cantik.
“Dih,
itu aku dulu yang masih tak tahu diri sebagai perempuan,” ia pasang muka
cemberut dan tampak kesal. Tapi kau malah tambah mengaguminya.
“Tapi
aku suka” kemudian tawamu lepas, sampai-sampai setitik bening air mata tumpah
dari ujung matamu. Mukanya memerah. Ia menjadi marah dan menggebrak meja dengan
keras lalu pergi meninggalkanmu yang masih saja tertawa. Hingga ingatan yang
masih terkenang di dalam benakmu itu benar-benar lenyap. Orang-orang di kafe
itu memandangmu keheranan. Lelaki kurang
ajar. Mungkin itu yang ada di benak mereka. Ya, dalam pertengkaran bentuk
apapun selalu laki-laki yang menjadi sasaran curiga.
Setelah
puas menertawainya, kau melihat gawainya tertinggal diatas meja. Di layar
terlihat foto ia dengan kekasih dan anaknya tengah sama-sama memakan ice cream kesukaan mereka. Kau teringat
betul percakapan sebelum perpisahan kalian beberapa tahun silam, ia pasang muka
marah dan kesal padamu sebab jawaban dari pertanyaannya tentang perasaanmu
padanya mengecewakan. Kau tak bisa berbohong waktu itu—mungkin sampai sekarang,
bahwa kau masih tak bisa percaya kepada siapapun. Pun padanya.
/3/
Seorang Kawan yang Membunuhmu
Kau tolol! Kau
mencintai seseorang yang hampir membunuhmu. Kau selalu mengelak dan mengatakan bahwa
kau membencinya, namun aku tahu sebenarnya kau menyayanginya. Meskipun kalian
saling melayangkan pukulan dan kadang-kadang saling menghantamkan kepala dengan
benda keras hingga hancur dan berdarah-darah, tapi aku tahu sebenarnya kau
masih menyayanginya.
Saat masih bocah kau
menaruh kepercayaan padanya. Kau bahkan mengkultuskan bahwa ia adalah
sabahatmu, penyelamatmu dan pelindungmu. Kau selalu bersamanya kemanapun ia
pergi. Dan ia akan selalu bersamamu kemanapun kau pergi.
Menginjak remaja,
tengah malam kau berjalan pulang seusai nongkrong dari kafe langgananmu. Kau
berjalan sendirian. Di lorong jalan pintas, gerombolan orang tiba-tiba
mengerubungimu dan seketika seorang menempelkan pisau di lehermu. Mereka
mengambil seluruh barang-barangmu lalu menghabisimu. Tulangmu hancur, lebam di
sekujur tubuhmu dan kau merasa bibirmu pecah dan berleleh darah. Sekilas kau
melihat seorang yang kau kenal berdiri paling belakang—ia adalah kawanmu. Ia memang
tak ikut serta dalam penghabisanmu, tapi kau kecewa sebab ia hanya diam saja
melihat kau dihajar mereka. Setelah kejadian itu kau tak pernah lagi berbincang
dengannya.
Lambat laun, entah
bagaimana kau berteman dengan para bajingan yang justru malah mengisi
kekosonganmu selama ini. Kalian menjalani hidup dengan tertawa, berjudi, mabuk-mabukan,
dan perkelahian. Tapi dari mereka kau belajar bagaimana cara bertahan hidup dan
dari mereka pula, kau belajar bagaimana mengisi kebahagiaan secara sederhana. Dan
yang paling kau sukai justru mereka lebih menjunjung solidaritas dan
kemanusiaan dibandingkan mereka yang sok bermoral.
Selanjutnya kau
berjumpa dengan gerombolan kawanmu itu. Kau mencoba melawan mereka, namun
sekali lagi. Kau hancur. Kau kalah. Lalu teman-temanmu mengetahuinya, mereka
geram lantas bersamamu menemui mereka. Kalian bentrok dan saling menyerang. Kau
ikut dan kawanmu juga. Kalian melayangkan pukulan dan menghantamkan benda-benda
keras seperti batu bata, tongkat besi ataupun balok kayu kepada lawan. Darah berceceran.
Lebam disekujur tubuh. Hingga terpisah saling melarikan diri ketika mendengar
sirine polisi yang meraung-raung sekerasnya. Berhari-hari begitu seterusnya.
Hingga malam itu,
seperti biasa dalam perkelahian. Tiba-tiba kawanmu melayangkan pukulan mengenai
kepalamu bagian belakang. Kau hampir oleng, tapi untung tak jatuh. Kau
membalasnya. Kalian saling hantam, menendang, menghindar dan menghujat. Lalu
kawanmu mengambil batu bata di dekatnya kemudian menghantamkannya di kepalamu.
Sialnya kau tak bisa menghindar. Kepalamu hancur seketika dan tubuhmu jatuh dan
menggelepar di aspal. Darah merah nyala muncrat dari kepalamu.
Usai perkelahian teman-temanmu
lekas membopongmu menuju rumah sakit. Darahmu keluar begitu banyak menetes di
sepanjang jalan. Kau hanya mengingat satu nama. Nama yang dulu dipakai
sabahatmu, penyelamatmu dan pelindungmu. Lantas kau menumpahkan setitik bening air
mata dari ujung matamu. Napasmu kian menipis dan jantungmu melemah. Kau tak
tertolong, nyawamu melayang entah kemana dan dibawa siapa. Aku masih menyayangimu, kawan. Itu adalah kata-kata terakhir yang
keluar dari mulutmu.
/4/
Perempuan Berkulit Pucat
Kau yang mempunyai
sepasang mata yang menyimpan keresahan terhadap beberapa hal, tengah duduk
sendiri di kafe langganan sembari membaca sebuah buku. Kemudian pintu kafe
berderit, seorang perempuan berkulit pucat dengan memakai rok tanggung sedikit ke
bawah lutut melangkah masuk bersama seorang laki-laki yang mungkin kekasihnya.
Mereka memilih tempat duduk di sudut ruangan yang dekat dengan jendela—di depanmu
persis.
Laki-laki yang bersama
perempuan itu sejauh tadi lebih suka bermain-main dengan gawainya. Sedang si perempuan
sejak tadi berusaha mengajak berbincang dengan lelakinya yang acuh tak acuh.
Malang benar nasibnya. Hingga perempuan itu mengeluarkan sebotol parfum dari
dalam tas lalu menuangkan seluruh cairannya ke dalam minuman laki-laki di
depannya itu dan mengaduknya pelan. lantas perempuan itu pergi melangkah
keluar.
Seminggu kemudian, di
hari sabtu pada senja hari kau berjalan-jalan di taman dekat kafe langganan. Kau
melihat perempuan kemarin yang suara dan matanya membuat hatimu berdesir duduk
di sebuah bangku sendirian tengah memandang langit kemerah-merahan yang purna.
“Kau sepertinya sendirian. Dimana laki-laki
yang minumannya kau campuri dengan parfummu?” Kau membuka percakapan dengan
perempuan itu. Tersenyum. Ia mengarahkan pandangan kepadamu dan kemudian kalian
melakukan percakapan yang panjang disana.
Setelah pertemuan itu kalian
menjadi semakin dekat. Kerap kali kalian berbincang dan berjalan bersama-sama hingga
perempuan itu lambat laun mengetahui sisi kehidupanmu yang kacau. Kau merasa ia
lebih peduli dan memperhatikan keadaanmu sesering mungkin. Semenjak itu kau
begitu bahagia dan harapan baru muncul perlahan-lahan dalam hidupmu. Dengan
perempuan itu kau telah menemukan kembali kebahagiaan yang sudah lama lenyap. Lantas
kau memutuskan melamarnya namun ia menolak. Ia masih mencintai kekasihnya yang
mencintai gawainya itu.
“Ah cinta, terlampau rumit untuk dijelaskan”
ucap perempuan itu.
Tidak. Kau tidak
membencinya. Kau hanya membenci kehidupanmu dan dirimu sendiri. Kembali keresahan
itu menghantuimu dan ia justru semakin menjauhkan diri darimu. Kau merasa ia
menjadi asing tanpa perjumpaan dan percakapan seperti sebelumnya.
Tapi kau masih
merindukan suara dan matanya yang membuat hatimu berdesir dan yang membuat....
/5/
Lelaki yang Lupa
Kau tak lagi bisa
menaruh kepercayaan dirimu kepada siapapun. Entah itu kekasihmu, saudaramu, keluargamu,
kawanmu, atau orang-orang yang bergantian bertemu dan lekas pergi darimu. Pun kau
sempat tak bisa percaya kepada takdir dan seluruh kehidupan ini. Bahkan kau tak percaya pada dirimu sendiri. Kau
memang bajingan dan bodoh, tapi bagaimanapun kau tak bisa mengelak dengan
perasaanmu sendiri.
Kepercayaan
adalah kau memberikan sebagian dari dirimu kepada siapapun atau apapun yang kau
kira mampu memberikan perlindungan padamu. Tapi sempat beberapa kali kau merasakan
kepercayaan yang kau berikan menjelma bumerang berbalik menyerang dirimu
sendiri.
Kau
mengerti bagaimana rasanya menjadi korban pengkhianatan. Selalu kau ketahui berbagai
topeng yang mereka kenakan secara bergantian. Kerap kali hanya kepura-puraan
yang mereka tunjukkan kepadamu. Hidup
hanya kepura-puraan. Segera kau menyimpulkannya dan kau terpaksa bersikap
seperti mereka. Berpura bahagia, sedih, kecewa, kesal atau ceria. Ah, kau
merasa menjadi seorang aktor sekarang dan dunia ini adalah panggungnya.
Penontonnya? Entahlah.
Kau merenung di sebuah
kursi taman kota kesukaanmu. Kau berusaha keras mencoba mengingat hal-hal yang
membahagiakanmu, tapi sia-sia. Lekas kau bangkit dan segera berjalan menuju kafe
di seberang jalan. Kau berjalan dengan melamun dan tiba-tiba sebuah mobil
menghantammu dari samping hingga kau terlempar jauh dan jatuh di aspal.
Remuklah tubuhmu dan meleleh darah dari kepalamu. Sempat kau berpikir,
sepertinya Tuhan murka dan lekas mematikanku dengan cara seperti ini.
Tapi tidak. Tuhan tak
mengambil nyawamu saat itu. Bahkan setelah berdiam di rumah sakit selama tiga
bulan kau sudah tampak sehat. Tak ada yang cacat pada tubuhmu. Kau berpikir
kenapa Dia tak mengambil nyawa bajingan ini?
Ya,
Aku tak akan mengambilmu saat ini, sebab Aku percaya padamu. Aku percaya kau
masih bisa bertahan hidup. Maka, percayalah pada-Ku.[]
Semarang,
Agustus 2017

Komentar
Posting Komentar