Panggung Beethoven


Masa peralihan, di Vienna, atau kota dikenal musik

seorang komponis merasuki partitur di benak penikmat

dan mewabah siul di bibir Jerman.


I

Malam di punggung panggung, 

terakhir lagu sebelum dipentaskan

perempuan bernama Elise 

(atau Therese, kita tak pernah tahu)

memastikan harapan di matanya.


“Kuberi tubuh untukmu, Beeth. 

Lekas bawa aku lari secepatnya.”

Mata perempuan itu sekeras kaca. 


Tapi riuh tepuk tangan penonton 

menenggelamkan suaranya yang gemetar. 

Atau barangkali Ludwig tak dengar

sebab si keparat otoslerosis melemahkan telinga

dan juga terburu ia menaiki panggung

menyelesaikan yang tak dimulainya.


II

Pada menit kedua, perempuan menjatuhkan muka

ke sepasang kaki pucatnya menuju taksi

yang malas menunggunya 

keluar dari gedung musik.


Lantas ia menghilang 

seperti bunyi yang lesap di udara

ruang pertunjukan.


III

Membengkak jemari Ludwig

berkali-kali mengetuk pintu Elise

yang terkunci rapat-rapat dan tak pernah 

ada tanggap dari dalam.


Saat itu musim semi jauh dari indah.

Hanya mendung di mata Ludwig

usai tetangga ucap prihatin:

Ia berumah dengan lelaki lain. Lelaki lain.


Gerimis jatuh ke bayangannya 

yang ia maki sendiri di boulevard:

Ini sebab ketakutanku mengabarkan

pendam cinta yang telanjur usang!


IV

Tak ada kalender. Sebab hari tampak serupa.

Di kamar ia mengeluh kepada piano, 

berserak lembaran-lembaran, dan bergelas-gelas

air es melelehkan bara di ubun-ubun.


Kesepian menyakitkan dan menyesaki

pengap kamar penuh nyamuk dan kecoak.


V

1801 Masehi, ia menekan kesakitan dan memainkan

ciptaan baru: harmoni Fur Elise dalam alunan adagio

yang lembut dan menggetirkan. 


bergulir not, dalam gerak telapak tangan yang gagal

mengusap pipi kekasih yang membikin ia payah

berlidah fasih di hadapan cinta.


VI

Fur Elise jadi menu santap di meja kafe para remaja 

berdebat tentang siapa paling pedih

Beethoven atau Elise.


Sementara Romeo dan Juliet

meledak lebih dulu di sandiwara.


VII

1824 Masehi, dengan pasang mata pura-pura

ia mementaskan Simfoni No. 9.

Bibirnya getar dan tampak bersenandung:


... dan barangsiapa yang telah meraih kemenangan

dalam mendapatkan istri berbakti,

bergabunglah dalam sorak sorai kami!


Pertunjukan usai dan tangan para pemusik terhenti

tapi Ludwig masih hanyut menarikan jemari

dalam tragedi dan kesunyian yang memerih.

Hingga seorang solois alto, Caroline Unger,

maju mendekat dan menarik ujung bajunya:

Sudah berakhir Ludwig. Sudah berakhir.


VIII

Di bangku penonton paling sudut,

seseorang berbisik di sebelah:

Lihatlah, si pencinta kita sampai tuli

oleh gemuruh hujan di tubuh sendiri.


Maret 2019

Komentar

Postingan Populer