Sajak-Sajak Semarangan
Sebelum Sampai Stasiun Tawang
Sulur-sulur cahaya, siluet pohon dan gedung
melambat di jendela gerbong kereta,
udara dingin dan malam menepi di ujung barat
aku mendapati ingatan aroma percintaan:
Lumpia
Kota masih simpan kehangatan
sepasang kekasih Tjoa Thay Joe dan Wasih
berupa santapan yang lahir di dapur
mengepul harap balutan manis rebung dan udang
dikabarkan sebagai penenang lidah
yang gemar memaki berludah-ludah.
Hanya beri kabar baik bahwa pertikaian
bakal berakhir dan usai di meja makan.
Sementara stasiun makin dekat
Alarm terdengar, instrumental:
Gambang Semarang
Bunyi mendatangkan haru
harmoni kental kendang Jawa dan kongahyan Tionghoa
terbayang tarian empat perempuan, aduh...
hati jadi tergerak dan gelak tawa ria.
Selain itu, tempat ini aku menemu diri kembali
lebih dekat surga di balik telapak kaki dan aroma tubuh ibu
lebih dekat bapak yang diam-diam menanyakan kabarku.
3 Juni 2019
Masjid Kauman Semarang
I
Aroma Tuhan di udara, di antara
kubah segitiga berundak,
saka guru kaki Warak Ngendhog,
sulur dan dedaunan ornamen Persia.
Orang-orang bertamu
Sekadar membelalak sepasang mata
atau menjatuhkan kening di lantai
yang dingin.
II
Di depan, alun-alun begitu ramah
Tampak bibir lengkung hilal para pedagang,
bocah-bocah bermata riang
dolanan hompimpa berulang-ulang.
Langit memerah dan gema azan
dari corong menara yang tinggi
adalah waktu membelit sarung
dan lekas ambil air di kendi, bersuci.
III
Kini di lorong masjid hanya angin
di luar riuh bising kendaraan lalu lalang
dan pasar menabur plastik-plastik di jalan.
Masa lalu kian berlumut, terbenam
masjid-masjid megah tengah kota
tak bercerita apa-apa.
18 Desember 2019
Dialog Sepasang Penari Semarangan
Cah Ayu, kau ajak aku goyang di panggung
Pajang tubuh riwayat kota kita:
bukit-bukit rumpang dan pesisir genang
plastik jajanan.
Duh, keluhmu memburu tua, Kangmas
Rianglah, kita buka risalah
kisah kemuliaan Ki Ageng Pandhanaran.
Namun kakiku tak mahir berbohong
Hentak-hentak ini zaman Kalabendu
Tak sabar kelahiran Satrio Piningit
Sebuah ramalan dari para leluhur.
Dhandanggula cengkok Mandarin ini
adalah harapan benih pohon Asam Jawa
tumbuh di retak trotoar Kota Lama.
Penonton kini singkat tepuk tangan
Geliat tubuhmu hanya torso, Cah Ayu
yang penyek di gudang terbawah mall kota.
Itu hanya gertak saja. sungguh,
Gertak Semarang tak ada nyata.
Tetapi....
Sudahlah, juru selamat cuma Gambang Semarang
Kalau tak suka, melesap saja kau di berisik
knalpot para perantau wisatawan.
25 Desember 2019
Peniup Saksofon di Kota Lama
Aku adalah bunyi melengking luka masa lalu
Instrumental Boenga Anggrek menawarkan ingatan
Sempat tertimbun gedung-gedung baru.
Udara begitu asing. Tapi aroma hantu Belanda
Sembunyi di retak-retak bangunan tua.
Kau hadir sebagai turis bermata mendung
Taruh koin lalu aku lihat punggungmu biru
Tergelar catatan tentang kekasih yang mati.
26 Desember 2019
*Judul "Sebelum Stasiun Tawang" dan "Masjid Kauman Semarang" juga bisa ditemukan di antologi "Gambang Semarangan" terbitan Kosakatakita (KKK) th. 2020

Komentar
Posting Komentar