Perempuan yang Suka Bernyanyi



Ia tak gila. Perempuan muda yang masih menyimpan kecantikan itu sebenarnya tak kehilangan kewarasannya. Ia memang begitu, bernyanyi atau sekadar bersenandungkan sebuah lagu ketika hujan tengah turun. Sayup-sayup kamu akan mendengarnya diantara bunyi reruntuhan air hujan. Ia kerap kali melantukan lagu yang konon lagu itu sangat disukai oleh kekasihnya yang beberapa silam mati dikeroyok warga. Kekasihnya dituduh melakukan pemerkosaan terhadap seorang gadis kampung.

Kamu akan melihat pada saat-saat hujan, ia tengah menyanyikan sebuah lagu, dan akan kamu temukan ia bersama seorang laki-laki, menyerupai bayangan meski agak samar-samar tengah duduk di teras rumah bersanding dengannya. Kamu akan mengira itu adalah semacam makhluk halus. Semacam arwah suaminya.
            Pernah suatu kali, seorang warga menghampiri mereka. Sekadar memastikan siapa laki-laki yang selalu berada di sampingnya. Sebab, semua tahu bahwa suami perempuan itu telah lama meninggal dunia. Namun seorang warga itu tak pernah kembali dan tak siapapun tahu keberadaannya. Menghilang begitu saja. Lenyap. Bahkan Perempuan itu diam dan seketika matanya memerah ketika ditanya. Hingga sejak itu tak ada seorangpun yang berani menghampirinya, apalagi berbicara dengannya.
            Perempuan itu bernyanyi lagi. Nyanyian yang kali ini memunculkan aroma kepedihan. Siapapun yang mendengar akan ikut merasakannya, dan mereka akan berlarut-larut sedih berkepanjangan merasakan luka yang dipendam si perempuan. Dan ternyata arwah kekasih perempuan itu lenyap, pergi entah kemana. Perempuan itu duduk sendirian di teras rumah. Bernyanyi sendirian. Di saat hujan turun. Sendirian.
            Waktu berlalu, terjadi keanehan yang menimpa warga kampung. Seorang laki-laki kerap tiba-tiba menghilang setiap hujan turun. Itu terjadi kurang lebih dalam seminggu sekali. Warga merasa khawatir, terutama tetua dan kepala kampung. Lantas mereka, bersama warga lain menyelidiki sebab hilangnya lelaki-lelaki itu. Berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan selanjutnya kejadian terus saja berulang. Tapi tak ada yang menemukan penyebabnya.
            “Peduli amat dengan gosip itu, paling-paling mereka pergi ke kota diam-diam” Karmin bicara dengan dirinya sendiri, mencoba menghibur hatinya yang agak cemas. Malam itu, di bawah hujan yang turun sangat deras, ia berlari dari warung kopi menuju rumahnya.
            Tengah perjalanan, Karmin melihat ada seorang laki-laki berjalan memasuki rumah perempuan yang suka bernyanyi itu. Karmin curiga. Ia mencoba menguntitnya diam-diam. Ia melihat laki-laki itu memasuki sebuah kamar di dalam rumah. Karmin mengintip dari celah pintunya. Ia terkejut, melihat seorang perempuan tak berbusana berbaring di atas ranjang, dan tersenyum pada laki-laki itu dan tanpa aba-aba, menyatukan tubuh mereka dalam percintaan yang membara. Karmin terkesiap.
Seusainya, Perempuan itu menuju ke arah meja sudut ruangan dan mengambil sebuah pisau yang sepertinya telah disiapkan. Ia memotong leher laki-laki itu, cairan merah keluar merembes hingga ke tubuhnya. Darah berceceran. Kepala laki-laki itu lepas, menggelinding ke lantai. Tubuhnya mati dalam pelukannya, menjadi mayat seketika. Karmin terperangah, tak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Tubuhnya, hatinya, pikirannya bergetar tak karuan. Ia ketakutan lantas lari menerjang hujan menuju rumahnya.
Perempuan itu bernyanyi lagi di teras rumah, dan hujan semakin deras membasahi perkampungan.
Karmin
            Ia berlari menuju rumahnya. Ia meringkuk di dalam kamar. Gelap, sunyi, dan penuh teror. Begitu mual perutnya dan tubuhnya bergetar hebat. Ia benar-benar ketakutan. Begitu terbayang-bayang tubuh perempuan yang menggairahkan itu ternyata tersembunyi kematian yang mengenaskan. Ingatan tentang kejadian itu menjelma bayangan yang menguntit di pikirannya.
              Ia sama sekali tak berani membicarakan kejadian itu kepada siapapun. Setiap kali ingin membicarakannya ia selalu mendengar suara nyanyian perempuan itu, dan berujung tubuhnya merinding, dan Karmin menumpahkan air matanya entah kenapa. Ia merasa perempuan itu selalu mengikutinya. Teman-teman Karmin heran dengan tingkahnya yang tiba-tiba menjadi tak seperti biasa.
            “Ada apa kau Min? Akhir-akhir ini tingkahmu aneh” salah seorang teman menanyakan keadaannya. Karmin diam saja.
“Kau baik-baik saja kan, Min?” ucap yang lain.
Karmin diam saja.
Setiap hujan turun Karmin selalu terbayang dengan perempuan itu. Perempuan yang muda dan masih menyimpan kecantikannya, yang tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Tiba-tiba tubuh Karmin memanas dan ia merasa gerah. Ia bergairah liar membayangkan tengah bercinta dengan perempuan itu. Tentang pembunuhan itu? Entahlah. Tiba-tiba saja ia melupakannya.
Karmin sering merasa gelisah. Ia ingin menemui perempuan itu tapi ada ketakutan yang menyerangnya. Bertemu perempuan itu sama saja ingin menemui ajalnya. Tapi Ia sudah tidak bisa menahan diri. Kerinduan telah menumpuk-numpuk dan menjadikannnya seorang lelaki yang rela menjadi bodoh. Ia ingin menumpahkan cintanya kepada perempuan itu. Segera. Hasrat sudah tidak bisa ditahan lagi. Terpenting memuaskan kerinduan dan cintanya, tak peduli nyawanya tengah terancam. Ia menuju rumah perempuan itu malam hari pada saat hujan deras-derasnya supaya tidak ada orang yang mengetahuinya.
Karmin mengetuk pintu rumah si perempuan. Perempuan itu keluar dan melihat Karmin yang tubuhnya basah karena hujan. Karmin dipersilakan masuk. Perempuan itu memberinya pakaian ganti. Pakaian yang sering dikenakan suaminya dulu.
Karmin berganti pakaiannya, Perempuan itu sudah menyiapkan dua cangkir kopi, lalu mengajak Karmin duduk diteras, sebab Perempuan itu ingin memandangi air hujan yang turun membasahi tanah halamannya. Karmin menurut.
“Apa yang kau tahu tentang hujan?” Perempuan itu memulai percakapan.
“Entah” jawab Karmin sekenanya.
“Kau tahu hujan telah berkorban. Ia rela meninggalkan rumahnya di langit demi tanah di bumi yang dicintainya. Aku suka menyanyikan lagu untuk pengorbanan cintanya. Suamiku menyukainya, begitu juga dengan suaraku.” Mata perempuan itu menerawang jauh ke depan, sesekali sebutir dua butir air mata mengaliri pipinya yang halus.
“Dan kau tahu? Saat orang-orang memakai baju suamiku itu, aku selalu membayangkan sebagai dirinya.” Perempuan itu bernyanyi dengan suara yang indah dan lembut. Karmin diam. Terpaku menatap perempuan itu. Menatap tubuh perempuan itu.
Beberapa jam berlalu, Perempuan itu mengajak Karmin masuk ke rumah. Esoknya atau selanjutnya Karmin menghilang. Tak ada yang tahu kabarnya.
Perempuan itu bernyanyi lagi di teras rumah dan hujan semakin deras membasahi perkampungan. Kekasihku, aku balaskan dendammu. Ucap lirih perempuan itu. []

3 April 2017

Komentar

Postingan Populer